BANDUNG —bangbungnewsnetwork.my.id
Pemerintah Kota Bandung di bawah kepemimpinan Wali Kota Muhammad Farhan terus mematangkan arah pembangunan wilayah secara terukur. Memasuki fase krusial kepemimpinannya, Pemkot Bandung menegaskan komitmen untuk mempercepat intervensi pembangunan dengan metode yang tidak lagi seragam, melainkan berbasis pada kebutuhan riil dan karakteristik unik masyarakat di tiap wilayah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa penyelesaian tantangan perkotaan tidak bisa disamakan antarwilayah. Menurutnya, setiap kelurahan dan kecamatan memiliki skala prioritas dan persoalan mendasar yang berbeda-beda, mulai dari mitigasi kebencanaan, pengelolaan sampah, hingga infrastruktur dasar.
“Pendekatan pembangunan Kota Bandung tidak lagi dilakukan secara generalisasi atau disamakan rata. Kami mendasarkan kebijakan pada data kewilayahan agar setiap intervensi yang diturunkan benar-benar menjawab kondisi riil dan menjadi solusi konkret atas keluhan masyarakat,” ujar Farhan.
Penajaman Solusi di Lapangan
Dalam implementasinya, strategi berbasis kebutuhan warga ini diturunkan ke dalam beberapa sektor prioritas:
* Mitigasi Bencana Kewilayahan: Pemkot Bandung menggalakkan program Siskamling Siaga Bencana untuk menurunkan Indeks Risiko Bencana. Fokus utama ditekankan pada pemetaan area rawan banjir serta perbaikan drainase secara spesifik, seperti yang baru-baru ini ditinjau langsung oleh Farhan di kawasan Cibiru.
* Pengelolaan Sampah Terintegrasi: Penanganan sampah didorong untuk diselesaikan sejak dari sumbernya melalui penguatan disiplin di tingkat RT dan RW. Sampah kini dikelola sebagai bagian dari mitigasi bencana agar tidak menyumbat saluran air saat intensitas hujan tinggi.
* Layanan Dasar dan Infrastruktur: Penanganan keluhan warga, seperti perbaikan jalan rusak akibat proyek utilitas, diakomodasi secara cepat melalui optimalisasi saluran pengaduan resmi kedinasan.
Membangun Kolaborasi Lintas Sektor
Farhan menekankan bahwa keberhasilan penanganan masalah perkotaan memerlukan keterlibatan aktif semua pihak, mulai dari aparatur kewilayahan, akademisi, organisasi kemasyarakatan, hingga para ulama. Kemitraan strategis ini diperlukan mengingat persoalan sosial seperti dampak judi online, penyalahgunaan narkoba, serta penataan ruang publik tidak dapat diselesaikan hanya melalui penegakan hukum atau gebrak-gebrakan sesaat.
Melalui arah kebijakan yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan mendasar ini, Farhan berharap program-program yang dijalankan dapat dirasakan langsung manfaatnya serta menjadi warisan pembangunan (legacy) yang berkelanjutan bagi masyarakat Kota Bandung.









